Selasa, 30 Oktober 2012

Tentang Idola Part 8


BAGIAN 8
JADIAN..

Esoknya..

Silvi sudah menceritakan semua yang terjadi kemaren kepada Sean. Sean sebagai sahabatnya ikut bahagia mendengarkan cerita Silvi dari awal sampai akhir. Sean belum pernah melihat sahabatnya sebahagia ini.
“Syukur deh kalo gitu, aku juga ikut seneng Sil. Semoga aja Kak Febri nggak cuman ngasih harapan kosong yah.” Harap Sean.
Dan ketika pulang, rencananya Sean ingin main ke rumah Silvi karena sudah cukup lama dirinya tidak kesitu.
Di jalan waktu Silvi dan Sean akan pulang terlihat Yoda dan Rosa diboncengan motor gede Yoda. Yoda sempat berhenti dan menyapa, begitu juga Rosa.
“Baru pulang kalian.” Kata Yoda. Silvi hanya diam menunduk. Sean yang menjawab.
“Iya kak, ini aku mau ke rumah Silvi. Ka Rosa sama Kak Yoda habis jalan-jalan yah.” Tanya Sean basa-basi.
“Iya nih rencananya kita juga mau ke rumah Silvi.” Kata Rosa.
Silvi kaget lalu refleks melihat ke arah Yoda.
“Boleh kan Sil, kita main ke rumah mu. Udah lama juga gue nggak singgah kesana.” Kata Yoda berharap Silvi akan mengiyakan.
“Oh, boleh kok. Nggak ada yang ngelarang.” Kata Silvi datar tak menatap Yoda.
“Di rumah ada siapa?” Tanya Yoda kemudian.
“Ada Kak Dera palingan, kalau mau duluan tinggal duluan aja.” Jawab Silvi.
“Kalau gitu kita duluan yah, ketemu di rumah.” Setelah itu Yoda melesat menuju ke rumah Silvi.
Silvi masih agak risih melihat pemandangan itu tapi kalau diingat-ingat lagi kejadian kemaren bersama Febri, rasanya pemandangan yang barusan tidak ada apa-apanya. Silvi kembali tersenyum.

Ketika sampai di rumah, Silvi melihat mobil Febri sudah parkir di halaman rumahnya dan motor Yoda pun sudah ada disitu. Silvi dan Sean saling berpandangan.
“Kok Mas Febri mau dateng nggak bilang-bilang yah?” Kata Silvi kepada Sean.
“Mau ngasih kejutan kali.” Kata Sean sambil tersenyum meyakinkan sang sahabat. Silvi hanya tersnyum malu.


Dan ketika Silvi menuju ke ruang belakang yaitu taman, ada suatu pemandangan yang mungkin agak membuat Silvi merasa janggal.
“Nah ini dia udah nyampe.” Kata Rosa.
Silvi melihat Rosa sedang duduk berjajar dengan Yoda.
Dera dan Febri sedang asyik bermain gitar dan bernyanyi diatas ayunan dekat kolam renang.
“Eh elo udah pulang. Sini deh.” Suruh Dera pada Silvi. Silvi nurut, ia mendekat kepada Dera dan Febri.
“Makasih ya.” Kata Dera dengan senyum sampingnya tersebut.
“Makasih buat?” Tanya Silvi masih tidak mengerti.
“Kemaren udah gantiin Dera buat nemenin aku jalan-jalan. Soalnya nih anak sibuk banget.” Kata Febri sambil mengelus lembut rambut Dera penuh sayang. Dera juga membalas senyuman manja kepada Febri.

Dan terlihat bahwa merekaaaaa…..


JADIAN!!!

“Kalian?” Tanya Silvi dengan nada sangau.
“Iya gue ngaku deh, selama ini Bang Febri sering main kesini tuh buat ngapelin gue, dan sebenernya sih kemaren gue yang nyuruh Bang Febri buat jalan sama loe. Soalnya gue bilang sama dia kalau mau jadi pacar gue, harus deketin dulu adeknya. Yaitu elo. Kemaren gue sengaja pergi sama anak-anak Say’A. makasih ya.” Kata Dera sambil mengacak-acak rambut Silvi.

Sean mendengarkan semua itu. Dirinya benar-benar tidak tega melihat raut wajah Silvi yang langsung berubah semenjak mengetahui kalau ternyata orang yang selama ini SIlvi sukai setengah mati mengincar kakaknya. Dan kejadian kemaren itu nggak lain hanya untuk mendekatkan sebagai seorang adik. Mata Silvi berkaca-kaca, dia membalikkan badan membelakangi Dera dan Febri.

Yoda melihat itu, Yoda tahu semua. Tatapan wajah Silvi tidak pernah bisa di bohongi. Tiba-tiba ia merasa iba pada Silvi. Dia bisa membaca pikiran Silvi kalau Silvi sangat menyukai Febri. Pada saat itu dirinya sangat amat ingin memeluk Silvi, namun keadaan yang tidak memungkinkan. Yoda juga tidak ingin membuat Dera dan Febri kecewa karena mereka juga baru saja jadian.

Silvi langsung berjalan menuju ruangan dalam, dengan perasaan hancur, ia mencoba menahan air matanya. Ketika kakinya melangkah di anak tangga pertama akhirnya jatuh juga air mata yang selama ini tidak pernah Silvi keluarkan. Terakhir Silvi menangis adalah pada saat melepas kepergian Dion untuk bekerja di Malaysia. Itupun sudah lama sekali.



Mungkinkah masih ada waktu yang tersisa untukku..
Mungkinkah masih ada cinta di hatimu..
Andaikan saja aku tahu, kau tak hadirkan cintamu
Ingin ku melepasmu dengan pelukan..

Sesal yang datang slalu..
Takkan membuatmu kembali..
Maafkan aku yang tak pernah tahu..
Hingga semuanya pun kini tlah berlalu..
Maafkan aku..



Lagu Tentang Cinta milik Ipang mengalun pelan di winamp laptop Silvi.
Bukan sengaja, tapi saat itu memang kebetulan ia sedang mendengarkan semua lagu yang ada di winamp.
Padahal winamp itu sudah lama dinyalakan sejak Silvi dan Sean masuk ke kamar. Sean sampai sudah menyelesaikan bacaan novelnya hampir setengah buku.
Silvi masih dengan perasaan yang tadi. Malah kali ini ia tambah merasakan sakit ketika lagu yang berputar berubah menjadi lagu “Masih Cinta” dari Kotak yang pernah dibawakan Febri pada saat spektakuler. Air mata Silvi lagi-lagi menetes halus di sela-sela pipinya.

Sean bingung harus bagaimana. Nasehat paling indah sekalipun tidak akan didengar oleh orang yang sedang merasakan patah hati seperti Silvi.

Pandangan Silvi kabur oleh air mata yang berlinang, lagi-lagi mengalir dan sesekali terbendung di kelopak matanya.
Sean mendekat dan mendekap tubuh Silvi erat. Tangis Silvi tambah kuat. Sean mengelus-elus rambut Silvi. Kasian.
Masih teringat di benak Sean ketika Silvi bercerita tentang Febri dan semua kebaikan Febri yang membuat Silvi sangat bahagia.

“Sil, udah ya. Jangan nangis. Aku ngerti banget perasaan kamu sekarang. Sakit banget rasanya. Tapi beginilah cinta, nggak bisa ditebak dalemnya. Kita nggak bisa membedakan antara cinta dan sayang itu ternyata nggak sama.” Kata Sean mecoba menguatkan Silvi.

Mungkin bagi para pembaca yang budiman dan budiawati ini tuh terkesan L.E.B.A.Y yah, tapi yang pernah merasakan patah hati pasti bisa merasakan apa yang Silvi rasakan saat ini.

“Kalau gitu aku pulang dulu yah. Mending kamu istirahat aja, pikirin buat besok. Besok kan kita ada ulangan banyak. Terusin dulu keluarin semua unek-unekmu lewat air mata. Siapa tau dengan nangis kamu bisa ngerasa lebih lega.” Kata Sean sambil melepaskan pelukannya.

Sean mengusap air mata di pipi lembut sahabatnya itu. Kembali Sean memeluk Silvi untuk yang kedua kalinya. Ia merasakan apa yang Silvi rasakan karena ia juga pernah merasakan saat-saat seperti itu.

Sean menutup pintu kamar Silvi pelan, ketika ia melangkahkan kakinya di tangga. Ia bertemu Dera yang akan naik.
“Ka, aku pamit pulang dulu yah.” Kata Sean pamit.
“Lho kok cepet sih, Silvi mana? Dia nggak nganter kamu pulang?” Tanya Dera sambil melongok ke arah pintu kamar Silvi.
“Aku dijemput sama supir, ka.” Kata Sean sambil tersenyum.
“Oh, gitu. Kalau gitu hati-hati ya di jalan. Salam buat mamah kamu.” Kata Dera kemudian mereka melanjutkan langkahnya masing-masing.

Dera awalnya akan menuju ke kamarnya, namun pada saat ia melewati pintu kamar Silvi, ia segera membuka kamar Silvi. Silvi yang sudah mengetahui akan kedatangan Dera, buru-buru ia merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur dan memejamkan matanya.
“Yah malah tidur dia.”
“Hey bangun loe, mau ikut jalan-jalan nggak sama kita?” kata Dera sambil duduk disamping Silvi.
“Apaan sih kak, ngantuk nih. Aku nggak ikut ah mending kakak pergi aja sama mereka.” Kata Silvi agak menyipitkan matanya. Tidak ingin diketahui Dera bahwa dia habis menangis.

“Beneran nih nggak apa-apa ditinggal sendiri di rumah?” Tumben Dera khawatir dengan sang adik.
“Nggak apa-apa kok kak. Biasanya juga sendirian kok.” Kata Silvi tersenyum untuk menutupi sakit di hatinya.
“Ya udah gue pergi yah. Jaga rumah baik-baik.” Dera mengelus kepala Silvi. Entah sudah yang ke berapa kali Dera melakukan hal tersebut pada adik kesayangannya, tapi saat itu rasanya sangat beda dengan sebelumnya. Mungkin karena setelah kejadian tersebut. Tapi agak nggak nyambung juga sih.

0 komentar:

Poskan Komentar